Bisakah kita senang melihat tetangga senang?

Saya pernah tinggal di komplek perumahan yang penghuninya rata-rata memiliki perekonomian mapan. Saya juga pernah tinggal di perumahan yang kebanyakan warganya berpenghasilan pas-pasan. Tapi ternyata perbedaan status ekonomi ini tidak menyebabkan adanya perbedaan sikap dan perilaku dalam bertetangga.

Jujur, terkadang saya frustrasi dalam menyikapi permasalahan lingkungan ini. Kalau saya analisis secara sederhana, konflik yang sering terjadi biasanya bermuara dari ketidaksenangan hati ketika melihat kebahagiaan yang dialami tetangganya. Misal, ada tetangga yang naik jabatan, tiba-tiba dia langsung dapat julukan ‘ibu walikota’ karena gayanya yang dianggap seperti istri pejabat. Ada yang punya mobil baru, langsung diselidiki dari mana sumber dananya sampai-sampai dia bisa beli mobil baru. Tetangga yang merenovasi rumahnya kecil-kecilan, bukan besar-besaran, pun jadi sasaran kecemburuan.

Bukan hanya pada hal yang sifatnya materi, tapi juga merambah kepada ketidakrelaan melihat rumah tangga orang lain harmonis. Lantas beredar cerita kalau si suami atau istri sesungguhnya ‘ada main’ di kantor, sehingga keharmonisan itu sekadar kamuflase. Masalah anak juga bisa jadi pemicu gunjingan. Kalau ada anak tetangga yang berprestasi, dianggap orangtuanya mengeksploitasi sang anak. Bahkan, ada yang hapal tanggal pernikahan dari anak tetangga, sehingga pada saat anak tetangga itu melahirkan anak pertamanya bisa dihitung apakah anak yang terlahir itu hasil MBA (married by accident) atau bukan. Astaghfirullah...

Saya berupaya untuk dapat menyikapi lingkungan yang tidak kondusif ini dengan bijak. Sungguh, saya ingin ikhlas dan legowo untuk menghakimi diri saya sendiri dulu. Apakah saya tertarik dengan urusan rumah tangga orang? Apakah saya gundah gulana melihat ketidakbahagiaan dan kesuksesan orang lain? Apakah saya senang melihat penderitaan orang? Apakah saya bersikap baik terhadap tetangga bukan karena ada maunya? Apakah saya terlalu fokus pada keburukan tetangga? Setelah jujur menjawab pertanyaan itu, saya berusaha untuk membenahi sikap dan perilaku saya dalam bertetangga, syukur-syukur bisa seperti yang diajarkan Rasulullah saw.

Saya ingin menyikapi secara positif sikap dan perilaku tetangga yang terkadang tidak manis kepada saya, dan mencari hikmah dari setiap gunjingan yang datang. Di saat ada yang mengolok-olok profesi saya sebagai ibu rumah tangga padahal pendidikan saya cukup tinggi, saya ingin berkata alhamdulillah, berarti saya termasuk salah satu ibu yang beruntung. Di saat ada yang komplain dengan cara saya mendidik anak, saya ingin menjadikannya sebagai sarana introspeksi untuk memperbaiki diri. Meski hingga saat ini belum sempurna saya terapkan, tapi saya tetap mengukuhkan niat untuk SMS, Senang Melihat tetangga Senang, bukannya senang melihat tetangga susah.


Bagikan:

Posting Komentar

Mohon Tulis Komentar nya untuk perbaikan ke depan nya :)